Jumat, 18 Februari 2011

Mencintai Tanpa Syarat

THIS'S THE STORY:



    Lima tahun usia pernikahanku dengan Ellen sungguh masa yang sulit.

    Semakin hari semakin tidak ada kecocokan diantara kami. Kami

    bertengkar karena hal-hal kecil.

    Karena Ellen lambat membukakan pagar saat aku pulang kantor.

    Karena meja sudut di ruang keluarga yang ia beli tanpa

    membicarakannya denganku, bagiku itu hanya membuang uang

    saja.




    Hari ini, 27 Agustus adalah ulang tahun Ellen. Kami bertengkar

    pagi ini karena Ellen kesiangan membangunkanku. Aku kesal dan tak

    mengucapkan selamat ulang tahun padanya, kecupan di keningnya yang

    biasa kulakukan di hari ulang tahunnya tak mau

    kulakukan.


    Malam sekitar pukul 7, Ellen sudah 3 kali menghubungiku untuk

    memintaku segera pulang dan makan malam bersamanya, tentu saja

    permintaannya tidak kuhiraukan.


    Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku merapikan meja kerjaku dan

    beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam tapi

    jalan di tengah kota Jakarta masih saja macet, aku benar-benar dibuat

    kesal oleh keadaan. Membayangkan pulang dan bertemu dengan Ellen

    membuatku semakin kesal!


    Akhirnya aku sampai juga di rumah pukul 12 malam, dua jam

    perjalanan kutempuh yang biasanya aku hanya membutuhkan waktu 1 jam

    untuk sampai di rumah.


    Kulihat Ellen tertidur di sofa ruang keluarga. Sempat aku

    berhenti di hadapannya dan memandang wajahnya. "Ia sungguh cantik"

    kataku dalam hati, "Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 7

    tahun sejak duduk di bangku SMA yang kini telah kunikahi selama 5

    tahun, tetap saja cantik". Aku menghela nafas dan meninggalkannya

    pergi, aku ingat kalau aku sedang kesal sekali dengannya.


    Aku langsung masuk ke kamar. Di meja rias istriku kulihat buku

    itu, buku coklat tebal yang dimiliki oleh istriku. Bertahun-tahun

    Ellen menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu. Sejak sebelum

    menikah, tak pernah ia ijinkan aku membukanya. Inilah saatnya! Aku

    tak mempedulikan Ellen, kuraih buku coklat itu dan kubuka halaman

    demi halaman secara acak.


    14 Februari 1996.


    Terima kasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti bagiku, Vincent,

    pacar pertamaku yang akan menjadi pacar terakhirku.


    Hmm. aku tersenyum, Ellen yakin sekali kalau aku yang akan

    menjadi suaminya



    6 September 2001,


    Tak sengaja kulihat Vincent makan malam dengan wanita lain sambil

    tertawa mesra. Tuhan, aku mohon agar Vincent tidak pindah ke lain

    hati..


    Jantungku serasa mau berhenti...



    23 Oktober 2001,


    Aku menemukan surat ucapan terima kasih untuk Vincent, atas

    candle light dinner di hari ulang tahun seorang wanita dengan nama

    Melly. Siapakah dia Tuhan? Bukakanlah mataku untuk apa yang Kau

    kehendaki agar aku ketahui.


    Jantungku benar-benar mau berhenti. Melly, wanita yang sempat

    dekat denganku disaat usia hubunganku dengan Ellen telah mencapai 5

    tahun. Melly, yang karenanya aku hampir saja mau memutuskan

    hubunganku dengan Ellen karena kejenuhanku. Aku telah memutuskan

    untuk tidak bertemu dengan Melly lagi setelah dekat dengannya selama

    4 bulan, dan memutuskan untuk tetap setia kepada Ellen. Aku sungguh

    tak menduga kalau Ellen mengetahui hubunganku dengan

    Melly.



    4 Januari 2002,


    Aku dihampiri wanita bernama Melly, Ia menghinaku dan

    mengatakan Vincent telah selingkuh dengannya. Tuhan, beri aku

    kekuatan yang berasal daripadaMu.


    Bagaimana mungkin Ellen sekuat itu, ia tak pernah mengatakan

    apapun atau menangis di hadapanku setelah mengetahui aku telah

    menghianatinya. Aku tahu Melly, dia pasti telah membuat hati Ellen

    sangat terluka dengan kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya.

    Nafasku sesak, tak mampu kubayangkan apa yang Ellen rasakan saat

    itu.



    14 Februari 2002,


    Vincent melamarku di hari jadi kami yang ke-6. Tuhan apa yang

    harus kulakukan? Berikan aku tanda untuk keputusan yang harus

    kuambil.



    14 Februari 2003,


    Hari minggu yang luar biasa, aku telah menjadi Nyonya Alexander

    Vincent Winoto. Terima kasih Tuhan!



    18 Juli 2005,


    Pertengkaran pertama kami sebagai keluarga. Aku harap aku tak

    kemanisan lagi membuatkan teh untuknya. Tuhan, bantu aku agar lebih

    berhati-hati membuatkan teh untuk suamiku.



    7 April 2006,


    Vincent marah padaku, aku tertidur pulas saat ia pulang kantor

    sehingga ia menunggu di depan rumah agak lama. Seharian aku berada

    mall mencari jam idaman Vincent, aku ingin membelikan jam itu di

    hari ulang tahunnya yang tinggal 2 hari lagi. Tuhan, beri kedamaian

    di hati Vincent agar ia tidak marah lagi padaku, aku tak akan tidur

    di sore hari lagi kalau Vincent belum pulang walaupun aku

    lelah.


    Aku mulai menangis, Ellen mencoba membahagiakanku tapi aku malah

    memarahinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Jam itu adalah jam

    kesayanganku yang kupakai sampai hari ini, tak kusadari ia

    membelikannya dengan susah payah.



    15 November 2007,


    Vincent butuh meja untuk menaruh kopi di ruang keluarga, dia

    sangat suka membaca di sudut ruang itu. Tuhan, bantu aku menabung

    agar aku dapat membelikan sebuah meja, hadiah Natal untuk

    Vincent.


    Aku tak dapat lagi menahan tangisanku, Ellen tak pernah

    mengatakan meja itu adalah hadiah Natal untukku. Ya, ia memang

    membelinya di malam Natal dan menaruhnya hari itu juga di ruang

    keluarga.


    Aku sudah tak sanggup lagi membuka halaman berikutnya. Ellen

    sungguh diberi kekuatan dari Tuhan untuk mencintaiku tanpa

    syarat.


    Aku berlari keluar kamar, kukecup kening Ellen dan ia terbangun.

    "Maafkan aku Ellen, Aku mencintaimu, Selamat ulang tahun."




    by

    someone


    ------------ --------- -------

   MENCINTAI ADALAH MEMBIARKAN ORANG YANG KITA CINTAI SEPERTI APA

    ADANYA DIA, BUKAN SEPERTI YANG KITA INGINKAN DARI DIRINYA. KARENA

    KALAU MEMBUAT DIA SEPERTI APA YANG KITA INGINKAN BERARTI KITA TIDAK

    BENAR-BENAR MENCINTAI DIA, TAPI KITA MENCINTAI BAYANGAN DIRI KITA
    YANG ADA PADA DIRINYA...


    Jika manusia bisa mencintai pasangannya tanpa syarat.


    Bayangkan, bagaimana besarnya cinta Tuhan

    kepada kita yang adalah ciptaanNya. anakNya. sahabatNya. saudaraNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar